Kerang Darah Jadi Penopang Ekonomi Warga Kampung Sungai Burung

Tulang Bawang (Ekspres.id) – Kampung Sungai Burung Kecamatan Dente Teladas, Kabupaten Tulang Bawang adalah Salah Satu Penghasil “Kerang Darah” Terbesar di Lampung, rata-rata hasilanya Panen Kerang Mencapai 3-4 ton/hari.

Diketahui Kerang darah adalah sejenis kerang yang biasa dimakan oleh warga Asia Timur dan Asia Tenggara pada umumnya. Anggota suku Arcidae menyebutnya “Kerang Darah” karena kerang itu sendiri menghasilkan hemoglobin dalam cairan merah. Kerang ini menghuni kawasan Indo-Pasifik dan tersebar dari pantai Afrika timur sampai ke Polinesia.

Hal ini terpantau pada saat Dinas Kominfo Tulangbawang bersama IWO meninjau langsung ke kampung Sungai Burung, dalam rangka menggali destinasi wisata di kampung setempat. Minggu, (21/02/2021).

Masyarakat kampung sungai burung mayoritas usaha mereka sebagai nelayan. Warga menggantungkan sumber penghasilannya dari hasil laut seperti ikan, udang, kepiting (rajungan ), untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.

selain itu juga ternyata kampung sungai burung ini merupakan penghasil sekaligus pemasok “Kerang Darah” terbesar pasaran di Lampung dan juga penjualan sudah menembus pasaran manca negara.

Seperti yang di ungkapkan Sekertaris kampung Sei Burung Mashuri, “Hampir semua warga kampung sungai burung ini usaha budidaya kerang darah, karena budidaya kerang ini sangat menjanjikan dan dapat menopang kebutuhan kami. Karena dalam kurun waktu 4 sampai 5 bulan sudah bisa dipanen dan tidak rumit juga cara budidayanya tanpa di beri pakan bisa menghasilkan. “ungkap mashuri.

Sekkam mashuri juga menjelaskan, “dalam 1 hari warga kampung panennya bisa mencapai 3-4 ton/hari. Jadi dalam satu bulan itu bisa mencapai ratusan 100 ton. Dan untuk harga kami jual kisaran Rp.13.000, sampai Rp.16.000/kilogram itu pun tergantung dari size besar kecilnya, Sedangkan untuk yang size super itu bisa mencapai ratusan ribu/kilogram nya, “Jelasnya.

Hal senda seperti yang dijelaskan oleh warga jamal dan Bahar pada pada Kadis Kominfo dedy saat kami kunjungi langsung warga yang sedang mengemas hasil panennya.

Disela-sela percakapan
Beberapa warga budidaya kerang ini juga mengeluhkan, ” terkadang kami mengalami gagal panen karena pengaruh air, sedangkan bibit yang ditebar itu cukup mahal juga per kilonya. Pasokan bibit itu juga dari luar provinsi.

Maka kami para nelayan khususnya petani budidaya Kerang ini butuh bimbingan dari Dinas terkait untuk masalah pembibitan dan pengemasan hasil panen agar bisa lebih berkembang dan bermutu serta lebih meningkatkan nilai jual di pasaran luas. Karena selama ini kami para pembudi daya kerang darah tidak pernah mendapat bimbingan ataupun pelatihan, ” harap para petani kerang.

Jamal mantan kakam sei Burung juga merupakan pelaku budidaya kerang mengatakan,” salah satu usaha yang dapat meningkatkan penghasilan warga ya budidaya kerang ini, tinggal bagaimana dari Pemerintah daerah melakukan pembinaan supaya dapat meningkatkan hasil budidaya sehingga mengangkatkan kesejahteraan warga kampung sungai Burung, ” Tutupnya. (SP)

You might also like

Leave A Reply

Your email address will not be published.